Wednesday, May 22, 2013

Nafsu Birahi Ibu Guruku


Sebagai siswa sebuah SMU Swasta, aku bukanlah murid yang pintar tapi juga tidak bodoh-bodoh amat. Biasa-biasa saja. Tidak bisa dibanggakan.
Yang bisa aku banggakan adalah wajahku yang ganteng dengan bentuk tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang seimbang.
Dan paling aku banggakan adalah ukuran kontolku yang luar biasa besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membuat iri teman laki-lakiku.
Namaku Doni, cukup terkenal di sekolahku. Mungkin karena aku bandel dan sering berganti-ganti cewek. Banyak teman sekolahku yang pernah aku tiduri. Mereka tergila-gila setelah menikmati kontolku yang luar biasa dan tahan lama kalau ngentot.
Sore itu, setelah semua pelajaran selesai aku bergegas pulang ke rumah. Semua buku-buku sudah kumasukkan kedalam tas. 
Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tapi di tengah perjalanan aku baru ingat, pulpenku tertinggal di dalam kelas.
Dengan tergesa-gesa aku balik lagi ke sekolahku. Setelah mengambil kembali pulpenku, aku berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk mencapai tempat parkir, aku harus melewati ruangan guru.
Ketika melewati ruangan guru-guru, aku mendengan suara mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Aku penasaran dengan suara-suara itu. Aku mendekati pintu ruangan, suara-suara itu semakin keras.
Aku semakin penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, aku mencari tahu darimana datangnya suara-suara itu. Begitu mendekati ruangan Bu Sisca, aku terkejut.
Disana kulihat Bu Sisca, guru bahasa Inggrisku yang telah setahun menjanda, sedang bercumbu dengan Pak Rio, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.
Bibir mereka saling kecup. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rio meremas-remas pantat Bu Sisca yang padat, sedangkan tangan Bu Sisca melingkar di pinggang Pak Rio.
Mereka yang sedang asik tak tahu akan kehadiranku. Aku mendekati arah mereka. Aku kemudian membungkukkan badan dan bersembunyi di balik meja, mengintip mereka dari jarak yang sangat dekat.
Mereka menyudahi bercumbu, kemudian Pak Rio duduk di pinggir meja, kakinya menjuntai ke lantai. Bu Sisca berdiri di depannya.
Bu Sisca mendekati Pak Rio, dengan buasnya dia menarik celana panjang Pak Rio. Tak ketinggalan celana dalam Pak Rio juga diembatnya. Hingga Pak Rio setengah telanjang.
Bu Sisca menguru-urut kontol Pak Rio. Kontolnya yang tidak begitu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Sisca membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya pas diatas selangkangan Pak Rio. Kontol Pak Rio diciuminya.
“Isep... sayaaang..... isep... kontolku...” suruh Pak Rio.
Bu Sisca tersenyum mengangguk. Dia mulai menjilati kepala kontol Pak Rio. Terus turun ke arah pangkalnya. Bu Sisca sangat pintar memainkan lidahnya di kontol Pak Rio.
“Ooh..... enakk... sayaang....., terus....., truuuss.....”.
Pak Rio mengerang ketika Bu Sisca mengulum kontolnya. Seluruh batang kontol Pak Rio masuk ke mulutnya. Kontol Pak Rio maju mundur di dalam mulut Bu Sisca. Tangan Bu Sisca mengurut-urut biji pelernya.
Pak Rio merasakan nikmat yang luar biasa. Matanya merem melek. Pantatnya diangkat-angkat. Aku sangat terangsang melihat pemandangan itu. Kuraba-raba kontolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.
Kukocok-kocok kontolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Ingin rasanya aku bergabung dengan mereka, tapi keinginan itu kutahan, menunggu saat yang tepat.
Lima belas menit berlalu, Pak Rio menarik dan menjambak kepala Bu Sisca.
“Aaahh...... aku... mauu... ke..... keluar sayaaaang........”
Pak Rio menjerit histeris...
“Keluarin aja sayaaang..., aku ingin meminumnya” sahut Bu Sisca.
Bu Sisca tak mempedulikannya. Semakin cepat dikulumnya kontol Pak Rio dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal kontol Pak Rio seirama kocokan mulutnya. Kontol Pak Rio berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.
Dan...
Crott...! crott...! crott...!
Pak Rio menumpahkan spermanya di dalam mulut Bu Sisca.
Bu Sisca meminum cairan sperma itu. Kontol Pak Rio terus dijilatinya, hingga seluruh sisa-sisa sperma Pak Rio bersih. Kontol Pak Rio kemudian mengecil di dalam mulutnya.
Pak Rio yang sudah mencapai orgasme kemudian turun dari meja.
“Kamu puas sayang dengan serviceku...” tanya Bu Sisca.
“Puas sekali..., kamu pintar sayang...” puji Pak Rio sambil tersenyum.
“Gantian sayang....., sekarang giliranmu memberiku kepuasan” pinta Bu Sisca.
Bu Sisca melepaskan gaunnya, juga pakaian atasnya, hingga dia telanjang bulat. Astaga ternyata Bu Sisca tak memakai apa-apa dibalik gaunnya.
Aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan tetek yang besar dan padat, juga bentuk memeknya yang indah dihiasi bulu-bulu jembut halus yang dicukur tipis dan rapi.
Bu Sisca kemudian naik ke atas meja, kakinya diselonjorkan ke lantai. Pak Rio mendekatinya. Memek Bu Sisca diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk memek Bu Sisca. Bu Sisca menjerit nikmat.
“Isep sayaaang....., isep memekku sayaaang...”
Pinta Bu Sisca menghiba...
Pak Rio menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Sisca. Lidahnya dijulurkan ke memek Bu Sisca. Disibaknya bibir memek Bu Sisca dengan lidahnya. Pak Rio mulai menjilati memek Bu Sisca.
“Ooohh...... truss... sayaaang....., jilatin terus...., aaaaakhh......”
Bu Sisca mendesah.
Pak Rio dengan lihainya memainkan lidahnya di bibir memek Bu Sisca. Dihisapnya memek Bu Sisca dari bagian luar ke dalam.
Memek Bu Sisca yang merah dan basah dicucuk-cucuknya. Itilnya disedot-sedot dengan mulutnya.
“Ooohh......, enaaakk....., truss... truss... sayaaang....” jerit Bu Sisca tertahan........
Hampir seluruh bagian memek Bu Sisca dijilati Pak Rio. Tanpa sejengkal pun dilewatinya.
“Aaakhh... akuu... mauu... ke... keluar... sayang.....” erang Bu Sisca.
Memeknya berkedut-kedut. Otot-otot memeknya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rio, dibenamkannya ke selangkangannya.
“Aaa...... aku...., keluar.., sayaaang.....”
Bu Sisca menjerit histeris ketika mencapai orgasme. Memeknya sangat basah oleh cairan spermanya. Pak Rio menjilati memeknya hingga bersih.
“Kamu puas Sis...?” tanya Pak Rio pendek.
“Belum...! Entot aku sayaaang..... aku ingin merasakan kontolmu...” pinta Bu Sisca.
“Maaf Sis...! Aku tak bisa, aku harus pulang...”.
“Nanti istriku curiga aku pulang sore” sahut Pak Rio menolak.
“Kamu... pengecut Riooo......! Dikasih enak ajaaa..... takut...!”
Bu Sisca jengkel.....
Matanya meredup, memohon pada Pak Rio. Pak Rio tak mempedulikannya. Dia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Sisca yang menatapnya sambil memohon.
Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang sudah memuncak melihat mereka saling isap, ingin disalurkan.
Setelah Pak Rio berlalu, kudekati Bu Sisca yang masih rebahan di atas meja.
Kakinya menggantung di tepi meja. Dengan hati-hati aku berjalan mendekat. Kulepaskan baju seragamku, juga celanaku hingga aku telanjang bulat.
Kontolku yang sudah menegang, mengacung dengan bebasnya. Sampai di depan selangkangan Bu Sisca, tanganku meraba-raba paha mulusnya.
Rabaanku terus keatas ke bibir memeknya.
Dia melenguh.....
Kusibakkan bibir memeknya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu memeknya. Kudekatkan mulutku ke selangkangannya. Kujilati bibir memeknya dengan lidahku.
“Siii..... siapaaa...... kamuuu.....”
Bentak Bu Sisca ketika tahu memeknya kujilati.
“Tenang Bu! Saya Doni murid Ibu! Saya Ingin memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rio...” sahutku penuh nafsu.
Bu Sisca tidak menyahut. Merasa mendapat angin segar. Aku semakin berani saja. Nafsu birahi Bu Sisca yang belum tuntas oleh Pak Rio membuatnya menerima kehadiaranku.
Aku melanjutkan aktivitasku menjilati memek Bu Sisca. Lubang memeknya kucucuk dengan lidahku. Itilnya kusedot-sedot.
“Oooh....... teruuss..... Don..., teruuss..... isep... sayaaang.....”
Bu Sisca memohon.......
Hampir setiap jengkal dari memek Bu Sisca kujilati. Bu Sisca mengerang menahan nafsu birahinya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.....
Lima belas menit berlalu aku menyudahi aktivitasku. Aku naik ke atas meja. Aku berlutut d iatas tubuhnya. Kontolku kuarahkan ke mulutnya. Kepalanya tengadah. Mulut terbuka menyambut kehadiran kontolku yang tegang penuh.
“Woow.....! Gede sekali kontolmu...!”
Bu Sisca sedikit terkejut.
“Isep Bu..! Isep kontolku...!” pintaku.
Bu Sisca mulai menjilati kepala kontolku, terus ke pangkalnya. Pintar sekali dia memainkan lidahnya.
“Truuss..... Buu..... terus....., iseep.......”
Aku mengerang merasakan nikmat.
Bu Sisca menghisap-isap kontolku. Kontolku keluar masuk di dalam mulutnya yang penuh sesak.
“Akuuu..... tak.., tahann.., sayaaang.....! Entot akuuu... sayaaang.....” pintanya.
“Ya....., yaaa..... Buu...” sahutku.
Aku turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam kontolku, mendekati lubang memeknya. Bu Sisca melebarkan kedua pahanya, menyambut kontolku
Sedikit demi sedikit kontolku memasuki lubang memeknya. Semakin lama semakin dalam. Hingga seluruhnya amblas dan terbenam. Memeknya penuh sesak oleh kontolku.
Aku mulai mengerakkan pantatku maju mundur.
Klecot...! Klecot...!
Suara kontolku ketika beradu dengan memeknya.
“Ooooh....., nik... maaatt....., sayang....., truuuss.....”
Bu Sisca mendesah....
Kuangkat kedua kakinya ke bahuku. Aku dapat melihat dengan jelas kontolku yang bergerak-gerak maju mundur.
“Ooh....., Buu......, enakk.. bangeeett....., memekmu..., hangaaat.....” desahku.
Sekitar tiga puluh menit lamanya aku menggenjotnya, lalu kurasakan memeknya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.
“Akuu..... tak... tahaaann..... Dooonn....., aku... mau.... keluaaarr......” jeritnya.
“Tahaaan..... Buu..., aku... masih tegaaang.....” sahutku.
Dia bangun duduk di meja memegang pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.
“Aaaah..... akuuu..... ke... luaaaarrr......”
Bu Sisca menjerit histeris.
Nafasnya memburu. Dan kurasakan memeknya sangat basah, Bu Sisca mencapai orgasmenya. Ibu guruku yang sudah berumur 37 tahun menggelepar merasakan nikmatnya kuentot.
Aku yang masih belum keluar, tak mau rugi. Kucabut kontolku yang masih tegang. Kuarahkan ke lubang pantatnya. Kedua pahanya kupegang erat.
“Ja... jangaaan......, Doonn......”
Bu Sisca berteriak ketika kepala kontolku menyentuh lubang pantatnya.
Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku hingga setengah batang kontolku masuk kelubang pantatnya yang sempit.
“Aaooouww..........! Sakiiiiitt...... cabutt... Don..., aku... sakiiitt..... jangaannn.............”
Teriakannya keras sekali.....
Kusodok terus hingga seluruh batang kontolku amblas. Kemudian dengan perlahan tapi pasti kugerakkan pantatku maju mundur.
Teriakan Bu Sisca mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Sisca sudah bisa menikmati sentuhan kontolku di pantatnya.
“Jadi dicabut ngga Bu...” candaku.
“Jangan sayaaang....., enak bangeeett...” katanya sambil tersenyum.
Kusodok terus lubang pantatnya, semakin lama semakin cepat. Bu Sisca menjerit-jerit.
Kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Aku semakin mempercepat sodokanku ketika kurasakan akan mencapai orgasme.
“Bu....., aku mau ke... keluaaaarr..........”
Aku melolong panjang.
“Aaaaahh..... akuu... juga sayaaang.......”
Bu Sisca menyahut....
Crott...! Crott...! Crott...!
Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak di lubang pantatnya. Kutarik kontolku. Kuminta dia turun dari meja untuk menjilati kontolku.
Bu Sisca menurutinya. Dia turun dari meja dan berlutut di hadapanku. Kontolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya sampai bersih.
“Kamu hebat Don..., aku puas sekali...” pujinya.
“Aku juga Bu...” sahutku.
“Baru sekarang ini... lubang memekku... dimasuki kontol... yang sangat besaaarr.....” katanya terbata-bata.
“Ibu mau khanterus menikmatinya...” kataku.
“Tentu sayaaang....” jawabnya sambil berdiri dan mengecup bibirku.
Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan selanjutnya kudapatkan di rumahnya. Bu Sisca, guruku ternyata hyperseks.
Dia kuat sekali ngentot. Satu malam bisa sampai empat kali. Selanjutnya Bu Sisca menjadi salah satu koleksi cewek-cewek yang pernah kuentot.
Kapanpun aku mau, dia tak pernah menolaknya. Dan yang paling dia sukai adalah disodomi. Dia juga menyukai pesta seks.-